Sepertinya
hampir semua orang setuju bahwa Indomie adalah makanan rakyat. Terutama
manusia-manusia yang pernah menjalani fase hidup nge kos atau ngontrak, Indomie
adalah sahabat sejati yang tetap ada di masa sulit. Dalam tulisan come back saya
setelah lama vakum menulis ini, saya ingin sedikit mengeluarkan isi pikiran
tentang Indomie, Agama dan Politik,
Jadi begini,
menurut sumber yang dapat dipercaya, (Saya dapat dari Twitter tapi lupa akun
apa yang memposting maaf ya hehe) penikmat Indomie itu terbagi ke dalam 4
golongan alias sekte. Yang pertama adalah Golongan Konservatif. Penganut
golongan ini mempercayai bahwa cara menikmati Indomie terbaik adalah dengan
cara memasaknya lalu tanpa menambahi tambahan apapun. Golongan kedua adalah
golongan penikmat Indomie Progresif. Penganutnya mempercayai bahwa cara
terbaik menikmati Indomie adalah dengan cara menambahkanke dalamnya macam-macam sayuran seperti sawi,
kol atau tomat. Menambahkan telur rebus atau rawit ke dalamnya pun adalah cara
paling enak untuk menikmati Indomie.
Hai
hai .... saat aku mengetik tulisan ini, jam menunjukkan pukul 0:17 wib. Berhubung
aku belum bisa memejamkan mata untuk tidur, ya udah, aku putuskan untuk buka
laptop dan bikin tulisan ini deh. Postingan kali ini merupakan daftar lagu-lagu
Coldplay yang paling enak. Tentu, list dibawah ini adalah versiku sendiri. Sebenarnya
aku dengerin semua lagu-lagunya Coldplay, tapi berhubung terlalu banyak kalo
ditulis, maka saya batasi 20 lagu saja. Apa??? Kamu nggak ngerti Band Coldplay???
Hadeeh, rugi deh. Mending sekarang kalian search siapa dan bagaimana Coldplay. Cari
di Google banyak.
Nah,
sebagai preferensi dan referensi kamu untuk mendownloadgratisan membeli
lagu-lagu Coldplay di i-Tunes, berikut adalah 20 lagu Coldplay paling enak
versi M Teguh Pradhana. Cekitot;
Berikut ini aku tuliskan tipe-tipe Juventini
Indonesia musim 2015/2016. Tulisan ini adalah hasil pengamatan secara langsung
yang saya ambil dari status-status para Juventini. Tentu saja ini adalah tipe Juventini
yang berkeliaran di media sosial. Check it out.
Aku sering
memperhatikan beberapa anak kecil yang shalat di masjid ini. Tingkah mereka
yang polos memang terkadang lucu, gemesin dan seringnya ngeselin sih. Gimana nggak
ngeselin kalo pas kita sedang shalat (yang susah banget buat Khusyu’) mereka
malah begini, nih. Check it out !
Perlu kalian tahu, animals itu
bahasa Inggris. Kalo dibahasa-Indonesiakan artinya hewan-hewan. Kenapa hewan-hewan
bukan hewan saja? Karena di akhir kata ada ketambahan huruf “S”, nah tanpa
huruf S itu jadinya animal artinya.... hewan. *Fakta penting nggak penting*
Menurut kamus yang ada di hape
android saya, hewan adalah makhluk bernyawa yang mampu bergerak (berpindah
tempat) dan mampu bereaksi terhadap rangsangan, tetapi tidak berakal budi. Harap
diperhatikan, “tidak berakal budi.” Jadi bisa saja berakal Anto, berakal
Joni, intinya bukan Budi. Bukan ! kasihan Budi, dia sudah cukup berat menahan
beban ini budi ini bapak budi ini ibu budi.
Adakah seseorang
di dunia ini yang merasa sama seperti Aku? Atau pernahkah kalian melihat
seorang yang seperti aku? Lho, emang aku seperti apa? Aku adalah All-alone
Creation, guys. Aku adalah sesosok makhluk, manusia dan...... hidup yang
apa-apa selalu sendiri. Pergi nonton sendirian, jalan-jalan sendirian,
mengerjakan PR sendiri, duduk di kafe sendirian, nonton stand up comedy
sendirian, ngerjain skripsi sendirian, foto-foto selfie sendirian, nonton bokep sendirian ... oke, aku
sudah melenceng. Deskripsi di bawah ini adalah penggambaran yang 97% akurat
tentang aku sendiri. Tentu saja tidak aku simpulkan secara seenak sendiri tapi
ada beberapa yang diambil dari pendapat sebagian orang yang mengaku mengenalku.
Kembali lagi berjumpa
dengan tulisanku yang tidak ada manfaatnya buat siapapun yang membacanya. Berbeda
dengan tulisan-tulisan blogger terkenal yang katanya persiapan menulis harusnya
lebih lama ketimbang saat penulisan, Aku menulis hanya sebagai pelampiasan atas
waktuku yang tak jarang terbuang. Apalagi setiap postingan dari awal sampai
akhir paragraf terbuat hanya dalam waktu beberapa menit saja. Jadi tulisan-tulisanku
hanya bualan yang nggak bermutu sih sebenarnya.
Sebenarnya masih banyak
sih pikiran-pikiran nakalku yang sering bikin aku tiba-tiba diam lamaaa banget.
Tapi, cukup lah aku beritahu dua hal itu, saya kira kalian bisa menebak seperti
apa aku hanya dengan membaca dua pertanyaanku itu. Oke cukup sampai situ saja
karena maksud tulisan ini sebenarnya tidak ke arah situ.
Jadi di film
Interstellar, ceritanya si tokoh utamanya masuk ke lubang hitam secara sengaja.
Di film itu digambarkan bagaimana dia tetap bisa hidup di dalam lubang hitam
dengan tarikan-tarikan gravitasi yang begitu besar. Lalu tibalah adegan dia
masuk di inti lubang hitam yang ternyata adalah Ruang 5 Dimensi. Itu adalah
ruang dimana semua “role film” kehidupan kita dari awal sampai akhir berada. Di
film itu si tokoh utama yang berada di ruang 5 dimensi mencoba untuk
memberitahu dirinya sendiri yang berada di dunia nyata untuk tidak melakukan
sebuah kesalahan (nah untuk jelasnya, tonton lah film itu susah jelasinnya). Bicara
tentang Role film kehidupan, bagi kalian yang beragama Islam dan PERNAH NGAJI,
pasti deh tahu yang namanya, “hisaban yasiiron” bagi orang-orang yang
gemar beramal shaleh, dimana hari perhitungan dosa-dosa hanya ditampilkan
selayaknya layar film saja. Tidak dihitung dengan rinci dan mendetail. Dua kyai
saya dalam berdoa pun mengharapkan itu, yang satu (rohimahullah) doanya,
“haasibni hisaban yasiiro”, dan satunya berdoanya, “laa tuhaasibni...” *pengen
tahu artinya? KOMEN !”.
Sebuah hal yang itu-itu saja terkadang justru tidak membuat
orang bosan, tapi malah semakin menantikan hal itu untuk terjadi lagi dengan
kemasan yang berbeda. Mau contoh? Contohnya ada dalam diri kalian sendiri.
Kalian pasti sering komplain ke entah itu pacar atau teman lewat kata-kata,”Kamu
nggak kayak dulu lagi !” itu menurutku memiliki arti bahwa kalian mengharapkan
sesuatu terjadi secara berulang-ulang lagi haha. Contoh lain adalah buku-buku
karya Raditya Dika. Buku pertama sampai bukunya yang ketujuh sebenarnya
membahas itu-itu saja. Bahkan ada banyak isi buku yang dia jadikan materi stand
up. Hal seperti itu membuat orang yang membaca bukunya (termasuk Aku) berpikir,
“lah ini aku sudah tahu.” Atau “yah, yang ini mah sudah pernah.” Atau cara
bahasa Jawa nya, “WES TAUUUU”
Tapi apa kita lantas meninggalkan? Apa kalian lalu jadi tidak
mengharapkan lagi karya-karya Raditya Dika? Engga kan? Kalian justru semakin
membanjiri apa saja yang berbau Raditya Dika. Buku (yang lagi-lagi tentang
mantan), film bioskop, apa saja lah kalian pasti nunggu-nungguin. Termasuk Aku.
Aku bahkan sangat berharap video-video diare komediannya Raditya Dika (yang itu
adalah hal baru) kembali diganti jadi Malam Minggu Miko sesi 3 (yang mana itu
adalah hal lama) dan aku yakin sekali kalian engga menyadari kalo tadi aku
nulis video diare instead of Video Diary ,,,, iyaaa kaan?
Itulah jeniusnya Radit, dia bisa merubah hal yang seharusnya
membosankan menjadi sebuah ciri khas. Ya, ciri khas kalau dia membosankan ...
hahahaha bercanda. Hal seperti itu, sangat jarang sekali mampu dilakukan oleh
banyak orang. Kita seringnya akan langsung meninggalkan hal yang tampak mulai
membosankan termasuk pacar kita, iya kan? Mungkin itu karena kebosanan itu
bukanlah suatu ciri khas. Entahlah maksud dari tulisanku ini apa karena
sebenarnya aku nulis ini Cuma buat ngisi waktu senggang sembari nunggu download
filmnya selesai. Yap, berhubung sekarang udah selesai, udah dulu ya ....
Mataa.... :D
Sering, Aku berkeinginan menjadi seorang blogger yang serius. Yaa,
nggak usah tinggi-tinggi lah, contohnya kayak Mbak Noorma sama Mas Adhim aja
wis :D. Tapi jujur Aku adalah seorang anak manusia yang sangat unpredictable.
Terkadang malas, terkadang malas sekali *Rotfl*. Kadang dalam satu hari aku
memiliki banyak ide yang sesungguhnya ingin aku tuangkan dalam bentuk tulisan. Bahkan
seringkali sampai bingung sendiri akibat terlalu banyak ide. Tetapi, di satu
masa aku justru bingung harus berbuat apa karena tidak ada ide. Semua teori
teman-teman yang sok paham, mentah. Salah semua, karena jangankan mereka aku
sendiripun nggak atau belum bisa begitu memahami diriku sepenuhnya. Makanya,
ketika ada seseorang yang bilang, “I know you so well” itu sudah pasti
hanya sebuah omong kosong belaka hahahahaha.
Jadi ceritanya, aku suka nonton film-film Jepang. Apapun film
Jepang aku tonton, dari film samurai (47 Ronin, Rurouni Kenshin 1,2,3),
anime-anime (Naruto, One Piece, Conan, Death Note dkk) sampai film JAV[1]
(Sora Aori, Saori Hara sampai Rina Ichinose dkk[2])
aku tonton semua. Setiap aku nonton film-film Jepang aku juga cari tahu
soundtrack yang ada di film tersebut. Makanya aku jadi tahu band-band dari
Jepang kaya One Ok Rock, L’arc n Ciel dan ,,, sudah sih itu doang.
“Kamu engga usah mikirin wanita dulu. Pikirkan
saja lulus, terus cari kerja yang benar setelah kamu mapan wanita akan datang
dengan sendirinya ke kamu.”
Heran dan sedikit nggak percaya ketika
kalimat itu berulang-ulang saya dengar. Bukan, bukan dari mulut laki-laki, tapi
berpuluh-puluh kali saya mendengarnya dari mulut wanita. Do you get what I
mean?.
Akhir-akhir ini atau mungkin sudah lama, dunia periklanan di Indonesia itu selalu divisualkan dengan tubuh wanita. Apa saja iklannya, makanan, otomotif, elektronik semua disajikan dengan "bantuan" kemolekan tubuh wanita. Kalian kalau pernah nonton tv pasti deh bakal mengiyakan pandangan saya yang satu ini haha.
menurut saya, ada beberapa faktor yang menjadikan para produser iklan ramai-ramai menggunakan tubuh wanita sebagai medium iklan mereka.
Kali
ini aku bakal menuliskan sebuah kegelisahan yang sudah lama aku pendam. Sebuah
kegelisahan yang membuatku sungguh sangat gelisah (apa sih). Lalu apa
sih wa, suatu hal yang membuatmu gelisah? Hal itu adalah hilangnya kualitas top
di acara-acara tv kita. Oke tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saja aku
paparkan per kategori dan untuk menghemat halaman, aku bagi menjadi beberapa
part postingan. Selamat mengkritisi.
A.KATEGORI SINETRON
Apa hal positif yang bisa kita ambil dari sinetron-sinetron di Indonesia?
Apa? Apa? Apa lo liat-liat? Anak mana lo? Oke kayaknya aku mulai ngawur. Back
to the topic. Jawabanku adalah tidak ada hal positif yang bisa kita ambil
dari dunia persinetronan tanah air. Menyedihkan, sucks and terrible. Ngga
perlu jauh-jauh bilang, “nggak mendidik”, karena sekedar menghiburpun tidak. Oke
mari kita bedah satu per satu:.
Hari ini adalah hari dimulainya Ujian Tengah Semester (UTS)
di Sekolah saya. Dan kebetulan, saya menjadi salah satu dari pengawas Ujian. Seperti
biasa, mencontek masih menjadi primadona bagi anak-anak ketika sedang
mengerjakan soal-soal ujian tersebut. Tidak peduli seberapa ketat saya
mengawasi, tetap saja ada satu celah yang bisa mereka manfaatkan untuk
mencontek.
Tidak seperti biasanya, pada ulang tahun kemerdekaan Indonesia
tahun ini negara Kamboja memberikan hadiah kepada kita berupa, kekalahan. Ya !
timnas Indonesia U-19 yang digadang-gadang bakal masuk ke piala dunia U-20 harus
secara memalukan ditaklukkan oleh Kamboja. Iyaa KAMBOJA !!! skor nya 2-1. Ini
sekaligus menjadi kekalahan ketiga beruntun yang dialami oleh timnas kebanggaan
warga Indonesia ini. Alias, dari 4 laga yang telah dijalani, belum sekalipun
Evan Dimas dkk mengecap manisnya kemenangan di turnamen Hasanal Bolkiah setelah
di laga awal mereka ditahan imbang 0-0 oleh Malaysia. Adapun dua laga lainnya
berakhir dengan kekalahan 3-1 oleh Vietnam dan Brunei Darussalam. Brunei? IYA
BRUNEI
Familiar
dengan kata yang aku jadikan judul tulisan ini? Hemmmm, pasti berpikir, “kayaknya
pernah denger dimanaa gitu.” Kalau belum ngeh juga, oke lah aku
kasih tahu. Script itu bahasa Inggris, kalau dalam bahasa kita artinya
naskah atau tulisan. Shit juga bahasa Inggris lhoo,kalian pasti
sering deh bilang SHIT!! Kalau lagi kena apes, padahal kalian nggak ngerti kan
kalau shit itu bahasa Inggris, baru tahu pas baca tulisan ini. Makanya
ucapin terima kasih donk ke aku hehehe. Oke, shit itu artinya
sialan. Jadi, script shit artinya adalah SKRIPSI. *hening*
*****
Aku adalah mahasiswa semester 7 dari suatu
institut negeri yang (katanya sih) tahun depan bakal jadi Universitas negeri.
Artinya, kalau sudah semester 7 itu adalah waktunya bagi mahasiswa untuk
menikah, eh, meeeeeenyusun skripsi. Tapi, ah enggak banget deh. Sripsi
itu apa gitu. Nggak ada penting-pentingnya. Apa coba pentingnya?
*****
Satu, skripsi yang sudah jadi tidak
jadi bahan bacaan APALAGI ACUAN. Skripsi hanya dibaca oleh anak-anak semester 7
keatas yang lagi mau mencari judul saja atau mau mencontek metode atau mau
dijadika previous research. Biasanya ada juga mahasiswa semester 5 yang
ikut-ikutan usel-uselan baca skripsi, eh ternyata cuma buat tugas mata kuliah
Metodologi Penelitian.
*****
Dua, kalau aku perhatikan pas ujian,
dosen penguji nggak benar-benar membacanya secara utuh. Mereka “terjebak” dalam
pemikiran mereka yang beranggapan bahwa “SAYA SUDAH LEBIH DARI PINTAR, DENGAN
HANYA MEMBACANYA SATU KALIMAT SAJA MAKA SAYA SUDAH MENGERTI KESELURUHNNYA”. Dan
untuk mensupport gagasan pribadinya itu, mereka selalu nggak mau mengalah.
Mereka sudah dibekali ilmu kanuragan dari nenek moyangnya (dosen pengujinya
dosen penguji waktu masih kuliah) berupa ilmu MUTER-MUTERIN gagasan.
*****
Tiga, sudahlah. Skripsi itu hanya
sekumpulan tulisan sialan yang nggak ada gunanya. Mending kelulusan mahasiswa
jangan lagi menulis skripsi. Saya setuju kalau menulis jurnal gitu yang lebih
manfaat. Atau mengadakan penelitian yang benar-benar penelitian. Atau mending
diadakan UAU (Ujian Akhir Universitas) daripada skripsi. Oke? Sekian.
Hidup sebagai
manusia itu, tidak bisa lepas dari yang namanya pelabelan atau
pengkotak-kotakkan. Selalu ada sebutan khusus untuk masing-masing golongan. Layaknya
blogger yang mencantumkan label yang
berbeda untuk masing-masing tulisan, kehidupan manusia pun lekat dan erat
sekali dengan pelabelan. Label yang membuat manusia terkotak-kotak dan
terpisah.
Label paling
kentara dan paling jelas tentu kuat kaitannya dengan status sosial. Dimana jarang sekali manusia kaya
berbaur dengan manusia berlabel miskin, dimana jarang sekali manusia berlabel
terhormat berbaur dengan manusia berlabel biasa atau bahkan gembel. Jelek-ganteng-cantik,
berpendidikan-bodoh, kelas
atas-menengah-bawah-bawah sekali, murah-sedang-mahal
dsb. Hal ini terlihat sekali di Negara kita Indonesia.
Pelabelan ini seringkali
menyusahkan orang untuk menjalin sebuah hubungan, entah itu hubungan
persahabatan, cinta atau sekedar pertemanan. Golongan kaya suka emoh untuk bergaul dengan golongan
miskin, cantik emoh dengan jelek dsb dsb. Maka dari itu, aku pribadi suka
sekali ketika melihat ada dua anak SMA, satunya tinggi-cakep, bercanda dengan
temannya yg kecil item juweleQ (pake huruf Q) di KFC. Rasanya menyenangkan
sekali walaupun aku tidak ikut nimbrung kesitu.
Ada juga
per golongan suka mengelompok sendiri-sendiri. Termasuk geng motor misalnya,
ada geng motor yang khusus hanya untuk Honda atau Yamaha atau Yamahmud. Kenapa nggak
sekalian aja apapun makannya, minumnya teh botol sosro… ehh, maksudnya apapun itu merk motor-nya, tetap satu geng, bernama Geng
Siluman Tengkorak. (masih belum
nyambung ya? Hehehe) sepeda juga gitu
lho, ada perkumpulan sepeda onthel (persepon), tetangganya, perkumpulan sepeda pixie (perdapix), tetangganya lagi perkumpulan sepeda
rongsok (perserong), lainnya, perkumpulan rongsok sepeda (persoksep). Kenapa
nggak apapun merk sepedanya, tetep berkumpul menjadi satu perkumpulan. Yah,
beginilah kehidupan sosial kita
manusia Indonesia.
Sayangnya,
walaupun mempunyai label yang sama, tapi, tetap saja itu tidak menjamin
kerukunan dan keamanan nasional. Masih sering terlihat antar orang-kaya yang
saling menjatuhkan, antar orang miskin saling berperang meributkan masalah
sepele, atau sesama supporter yang bernaung dalam nama yang sama tetapi gelut-geluttan sendiri. #heran. Di jalan
raya juga begitu, masih sering terlihat kasus kecelakaan sesamamerk.
Misalnya, Honda tabrakan dengan Honda, Yamaha tabrakan dengan Yamaha. Kenapa bisa nggak akur gitu. Harusnya, kalau Honda nggak bisa
tabrakan dengan Honda lainnya.
Kalau menggunakan label mahal-murah,
keakuran ditunjukkan dengan, sesama motor mahal nggak bakalan tabrakan, jadi
kasus kecelakaannya Cuma motor mahal tabrakan dengan motor murah. Nah, kalau sudah begitu, pelabelan atau
pengkotak-kotakan yang berlaku menjadi maksimal alias tidak setengah-setengah.Filosofinya, pakaian kotak-kotak
yang kita pakai adalah pakaian lengan panjang, bukan pakaian yang sepertiga
belum jadi. J
Pernah dengar lagunya Merpati Band
yang berjudul Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah (TSSII) ? nah, kali ini saya
ingin sedikit membahas pernak-pernik tentang perselingkuhan based on my
view. Saya bertanya-tanya tentang judul lagu itu, kalau ada kata tak
selamanya indah, berarti ada indahnya, donk? menurut saya, selingkuh itu
nggak ada indah-indahnya. Percaya deh,,,,,!!! Untuk mempermudah pembahasan
disini saya memakai kata “kita”. Walaupun tulisan ini hanyalah bersifat
imajinatif. Berdasarkan lagu milik Band Merpati itu, di tulisan ini saya ingin
menceritakan tentang hubungan 3 orang yang seseorang nomer dua sudah tahu bahwa
dia hanyalah selingkuhan saja.
Coba bayangin, ketika sedang
berdua-duaan, tiba-tiba Hp selingkuhan kita bunyi gak tahu itu sms atau telfon,
kita nggak bisa berbuat apa-apa. Hati jelas nggak suka, tapi mau ngelarang juga
apa hak kita? Dia murni bukanlah pacar kita, kita hanyalah selingkuhan saja. Alhasil,
kita hanya menjaga suara kita agar tidak keluar saat si dia sedang ditelfon
oleh pacar nomer satunya, sedang di dalam hati rasanya ndongkol
sendongkol-dongkolnya. Nah, melihat dia ditelfon saja sudah ndongkol, apalagi
kalau melihat dia bareng sama pacar aslinya ??? sedangkan kita mau marah juga
kita manusia yang sadar bahwa kita hanyalah pilihan nomer dua.
Ketika kita selingkuh, dalam pikiran
kita pasti lah selalu membanding-bandingkan dua orang pacar kita. Apa baik-buruknya
si A dan apa buruk-baiknya si B, akhirnya kita merasa nyaman kalau lagi bareng
si A ataupun si B, karena masing-masing persona punya kelebihan yang kita
sukai. Kalau sudah begitu, biasanya hubungan dengan keduanya malah berakhir,
nah lho ? perhatikan lirik lagu TSSII berikut;
“Seiring berlalu bergulirnya waktu Membuka rahasia di antara kita Pastinya kan ada hati yang terluka Tak menerima semua kenyataan yang ada”
Haha, bener kan? Yang namanya kebohongan,
entah kapanpun itu pasti akan terbuka. Karena itu, bagi kalian yang kebetulan
membaca tulisan ini dan lagi menjalin hubungan dengan pihak ketiga,
cepat-cepatlah untuk diakhiri demi nama baik kalian, pacar pertama dan si nomer
dua. Lagian, sering saya membaca status teman-teman di facebook yang mengatakan
kalau hal yang paling menyesakkan adalah dibohongi. Kalau paling benci
dibohongi, kenapa membohongi? Hehehehehe.
Maaf
nih kalau tulisannya sangat tidak sistematis alias berantakan soalnya buru-buru
mau nonton Fabregas Cs vs timnas Indonesia. Gini-gini saya ini nasionalis lho
hehehehehehe, apapun keadaan timnas akan selalu saya dukung. Secarut-marutnya
kondisi Negara ini, saya akan tetap menjadi orang Indonesia. Terakhir nih,
berhubung masih belum terlambat soalnya masih banyak orang yang menyanyikan
lagu TSSII, saya menyarankan (jiah) pada Band Merpati untuk mengganti judul
lagu itu menjadi Selingkuh Selamanya Tak Indah………………… sudah dulu ya ^^
Membicarakan plagiarisme di
lingkungan kampus memang tidak ada habisnya. Isu yang selalu saja terdengar
nyaring, selalu diulas tanpa pernah tuntas. Banyak yang membicarakannya,
mengajukan berbagai macam solusi, tapi praktek plagiarisme tetap saja masih berjalan.
Sampai-sampai ada merk rokok yang
sempat mengangkat tema ini di salah satu iklannya. Tentu saja bagi sebagian
besar masyarakat tanah air masih teringat jelas iklan terkenal tersebut dengan
slogannya, “tanya kenapa ?”
Menurut hemat penulis, ada dua hal yang melatarbelakangi
praktek plagiarisme di kalangan mahasiswa. Pertama, keterbatasan ide yang
didukung rasa malas. Kedua, kebiasaan curang yang dibawa sejak pelaku masih berada
di sekolah. Seperti yang sering diberitakan media-media, tidak sedikit siswa
yang melakukan kecurangan saat mengerjakan soal-soal ujian, misal berita “Nyontek
dari Ponsel, Dua Siswa Ditangkap Polisi (Kompas, 16 April 2012).
Sayangnya, meskipun ada banyak siswa ketika ujian nasional melakukan kecurangan,
tapi tetap saja mereka bisa melenggang lulus ujian. Kenyamanan yang ditambah
rasa aman inilah yang akhirnya tetap mereka bawa, hingga ke jenjang perguruan
tinggi.
Disamping dua hal diatas, pelaku plagiarisme juga merasa akan
lebih mudah dan cepat untuk menyelesaikan skripsinya. Mudah tanpa perlu
pontang-panting melakukan penelitian, asal ada tulisan orang yang sesuai dengan
tema yang dia ajukan. Watak-watak ingin serba instan, serba mudah, menjadi
pendorong utama seorang mahasiswa menggunakan kata-kata orang lain ketika dia
menulis skripsi. Tentu saja, tanpa dia sebutkan siapa pemilik asli dari
kata-kata yang dia tulis, dengan tujuan, membuat pembaca dan pembimbing merasa
yakin jika kata-kata tersebut adalah buah karya pikiran mereka sendiri.
Bukan
Sistem
Ibarat pepatah, maling teriak maling. Tidak akan ada yang
mau mengaku ketika kita bertanya-tanya salah siapa, bahkan cenderung saling
tuding. Kemungkinan-kemungkinan terkait hal ini, pertama adalah kesalahan dosen, baik dosen pengajar maupun dosen
pembimbing skripsi. Munculnya plagiator dalam dunia kampus diakibatkan dosen
yang tidak mampu membawakan materi kuliahnya dengan baik, bahkan cenderung
membosankan, sehingga materi kuliah bukannya menarik bagi mahasiswa tapi justru
menjadi beban. Jika sudah menjadi beban maka orientasi mahasiswa bukan lagi
pada ilmu yang ingin didapat, melainkan beralih ke nilai. Jika sudah
berorientasi ke nilai, mahasiswa cenderung menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan nilai bagus.
Sedangkan untuk
dosen pembimbing, mereka dianggap terlalu longgar terhadap tulisan mahasiswa.
Ketelitian mereka ketika membimbing
skripsi juga perlu dipertanyakan. Misalnya, bakal skripsi yang hanya dibaca
sekilas saja oleh pembimbing, atau yang lebih ekstrem, tanpa membacanya tetapi
langsung membubuhkan tanda tangan (di ACC). Kedua
adalah kesalahan mahasiswa. Menurut beberapa dosen, munculnya plagiarisme
adalah mutlak kesalahan mahasiswa sendiri yang malas untuk belajar. Buktinya, masih
banyak mahasiswa yang dapat menyelesaikan skripsinya dengan ide, pikiran dan
usaha mereka sendiri. Semuanya kembali lagi pada mahasiswanya sendiri.
Ada banyak pihak yang menginginkan diadakannya sistem kelulusan
yang baru. Mereka beranggapan, sistem yang ada sekaranglah yang mendorong munculnya
plagiator. Seperti yang kita ketahui, sistem kelulusan sekarang menuntut
mahasiswa untuk menulis. Lantas, bisakah kita menyalahkan sistem ? mengingat peluang
menjamurnya plagiator di lingkungan kampus bisa saja meningkat, mengingat
kewajiban untuk mempublikasikan jurnal ilmiah bagi calon lulusan S-1 dan S-2. Sederhananya,
jika sekarang saja, pemerintah hanya mewajibkan menulis skripsi plagiarisme
sudah menjamur, bagaimana nantinya jika ada dua tugas akhir? Menarik ketika penulis berbincang dengan Mudjahirin Thohir,
salah seorang antropolog dan dosen Undip, dia mengatakan bahwa menyalahkan
sistem hanya akan menunjukkan bahwa kita adalah orang yang benar-benar lemah.
Sanksi
Tegas
Semestinya
dari pihak institut/universitas segera menerbitkan peraturan-peraturan mengikat
yang melarang mahasiswanya untuk melakukan plagiarisme. Pemberlakuan sanksi
seperti skripsi yang ketahuan plagiat digugurkan, juga dirasa perlu tegas
diberlakukan. Dalam hal ini, kita tidak membicarakan kuantitas lulusan institut/universitas bersangkutan,
melainkan pada kualitas lulusan yang dihasilkan. Skripsi bagus yang berasal dari
buah karya sendiri tentu mempunyai nilai lebih dibanding skripsi bagus yang
menjiplak karya orang lain.
Pemberian mata kuliah yang
menyasar tema plagiarisme juga mutlak untuk diberikan. Sebab, tidak sedikit
mahasiswa yang nir-pengetahuan tentang plagiarisme. Tentu saja mata kuliah
tersebut diajarkan oleh dosen yang mumpuni di bidang tulis menulis, tidak asal comot sembarang dosen untuk
mengajarkannya. Husnudzonnya penulis,
jika mahasiswa sudah paham benar tentang plagiarisme beserta efek buruknya,
terutama dihadapan Tuhan,
mereka akan berusaha untuk menghindari berbuat curang ketika menulis. Kesadaran
mahasiswa bahwa ilmu adalah kejujuran rasanya urgen untuk dibangunkan, karena apa jadinya ilmu yang suci jika
diselipi kebohongan dan kecurangan ?