Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

Saat Aku di Umur 16

Bersama guru-guru Mab'uts dari Mesir.

            Aku sering menerawang jauh ke beberapa tahun belakang. Apa-apa saja yang sudah aku lakukan. Apa-apa saja yang harusnya aku lakukan tapi tidak. Hal-hal apa saja yang harusnya tidak aku lakukan tapi dulu aku lakukan. Ya, ketika aku memikirkan masa lalu memang kebanyakan berakhir dengan penyesalan. Kali ini aku sedang memikirkan aku disaat umur 16 tahun.
            Kalian tahu Martin Odegard? Dia adalah bocah berumur 16 tahun asal Norwegia yang berhasil melakukan debut untuk tim sebesar Real Madrid. Lalu di Italia, ada Gianluigi Donnarumma. Kiper berusia 16 tahun yang berhasil melakukan debut bermain untuk Ac Milan. Pindah ke Jepang. Ada Uzumaki Naruto yang berhasil mengalahkan seluruh Pain sendirian di usianya yang ke 16. Iya, SENDIRIAN.! Padahal Kakashi-sensei saja sampai hampir mati dan Ero-Sennin a.k.a Jiraiya pun terbunuh ketika menghadapi Pain. Naruto memang luar biasa. *salut* Sekarang kita pindah ke Indonesia, ada aku, M Teguh Pradhana. Sewaktu aku berumur 16 tahun, Aku ............ nah ini, aku ngapain ya?    

Selasa, 17 November 2015

Dibalik Lelaki yang Hebat, Terdapat .....

            Selepas mengantar Yasmin dan Amar ke sekolah, tidak seperti biasanya aku tidak lanjut tidur. Tadi pagi aku memilih untuk santap sarapan terlebih dahulu. Kembali ke kamar, aku tidak dapat lagi untuk memejamkan mata. Bingung, aku ambil handphone dari saku celana, aku buka kaskus. Di lounge, ada satu thread yang menarik perhatianku.


            Thread itu berkisah tentang bagaimana seorang mahasiswa yang jatuh bangun menjadi seorang penulis. Dia mengaku awalnya dia sangat ingin menjadi seorang pengusaha. Oh ya, biasanya ketika aku buka kaskus, aku cari thread yang cara mengemas threadnya menarik. Sedikit kata dan dibumbui gambar-gambar. Nah ini beda ! thread ini semuanya tulisan, ngga ada gambar satupun. Tapi entah kenapa aku tertarik untuk membacanya kata demi kata.

Kamis, 29 Oktober 2015

TALK ABOUT : SKRIPSI (again)

S.K.R.I.P.S.I
(Sepertinya Kau Rampas Indahnya Percintaanku Sama Ina)

Jadi ceritanya, aku sudah membuang duit sekitar 3 juta 500 ribu selama 5 semester terakhir hanya untuk bayar registrasi kuliah dengan Mata Kuliah; Skripsi. semester 7 masih agak banyak mata kuliah selain skripsi ada PPL, PKn dan Budaya Jawa. Semester 8 skripsi + KKN dan semester-semester selanjutnya hanya skripsi. Artinya, aku utek-utek input mata kuliah skripsi untuk waktu yang sangat lama, 2 setengah tahun!
Banyak temen-temen yang heran dan bertanya-tanya kenapa? Apa susah? Tidak. Apa dosennya susah? Hemmm tidak juga. Sedang nunggu apa lagi? Nggak nunggu apa-apa juga. Aku cuma bisa menjawab, “Aku pun tak tahu...” Jujur, aku malu. Malu sama bapak ibu, sama tetangga, sama teman-teman. Apalagi pas salah satu teman sekelasku bilang begini, “Oh anak kelas kita, cowoknya yang belum lulus tinggal kamu ya? Yang paling pinter malah belum lulus.” Oh my goodness. Aku malu sama bapak ibu yang dulu sempat berharap banyak pada anaknya yang satu ini. Anak yang ternyata tidak bisa memberikan kebanggaan sedikitpun. Aku malu sama adik saya yang dulu sempat benar-benar mengidolakan aku sebagai kakaknya.    

Selasa, 27 Oktober 2015

ANDINI (Final Chapter): Bagaimana Hubungan ini Diakhiri


Semoga ini adalah bab terakhir dari cerita kebodohan aku dan Dini. Malam kamis tanggal 16 September 2015, aku memutuskan untuk secara baik-baik bicara ke dia tentang pengibaran bendera putihku. Iya, I totally give up this night. Sebab, umurku sudah segini banyak dan aku merasa kalau aku sudah nggak pantas lagi untuk terlalu hanyut dalam masalah cengeng bin bodoh seperti ini.
            “Aku bingung harus gimana...” kata Dini. Perkataan yang sudah aku dengar dan baca beribu-ribu kali. Engga ding, ngga nyampe jutaan paling sekitar 900 ribuan kali. *abaikan cuma bercanda. Dan aku pun ngga ngerti bab apa yang bikin dia terus-terusan berkata bingung.
            “ya sudah, aku punya dua solusi.” Kataku.

Minggu, 25 Oktober 2015

ANDINI (part 5): Kebodohanku Menjadi-jadi

Dini sering banget putus sama Qubil. Bertengkar sedikit kata putus keluar. Bertengkar lagi, putus lagi. Untung Hanya pacaran, kalo udah nikah gimana?. Bertengkar sedikit, kata cerai terucap jangan-jangan. Aku selalu merasa sakit ketika Dini putus sama Qubil. Di setiap momen dia putus, justru aku ngga melihat kesempatan untuk memilikinya secara utuh. Seem like no chance at all. Setiap aku merasa sakit hati itulah aku mencari pelarian. Jauhan yang pertama aku macari Maghfiroh, jauhan kedua aku macari Widya dan jauhan yang ketiga aku macari Farikha. Sampai akhirnya aku merasa stuck. Aku merasa ngga bisa mencintai wanita selain Dini.

sedih, gan.

Sabtu, 19 September 2015

ANDINI (part 4): Bagaimana Hubungan Ini Berjalan

MELAMUN

         Dalam menjalin hubungan, baik aku maupun Dini benar-benar bisa menutup rapat dari siapapun. Hemmm, sampai akhirnya Laila (adiknya Dini) paham sendiri sih, ngga tahu paham sendiri atau dikasih tahu Dini. Banyak teman-temanku baru tahu kalo aku “pacaran” sama Dini setelah pada lulus kuliah. Kecuali Zianur, Tari dan Khasanah yang akhirnya dengan terpaksa aku ceritain apa adanya. Daripada ribut tersebar luas kemana-mana dengan versi mereka sendiri. Mereka bertigapun tahu itu semua ketika sudah semester 7.
          Dengan pacarannya aku sama Dini, berarti secara otomatis pula aku semakin jauh dari teman dekatku, Zianur. Benar-benar jauh. Karena Dini sudah benar-benar takes over segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Kita jadi selalu berdua ketika makan di kantin, nonton film di bioskop berdua (sempat bertiga sih sama Laila), ngerjain makalah berdua (meskipun sebenarnya aku Hanya ngerusuhi) sampai lebih seringnya kita menghabiskan waktu hanya untuk sekedar ngobrol. Lebih sering lagi kita pergi berdua untuk sekedar membunuh waktu.   

Sabtu, 12 September 2015

ANDINI(part 3): Mulai Berhubungan

         


Pergantian semester pun datang, aku menjadi semakin akrab dengan Dini. Aku mulai tau anggota-anggota keluarganya, latar belakangnya sampai cerita-cerita pribadinya. Apapun dia ceritakan dan aku senang mendengar ceritanya satu per satu. Mulai mantan yang masih sayang, sampai sosok orang yang dia cintai selain pacarnya, aku tahu semuanya. Akhirnya diapun memanggil aku “kakak” dan aku benar-benar memberlakukannya sebagai adik. Karena kebetulan aku ngga punya adik perempuan dan dia tidak mempunyai kakak laki-laki.
          Semester itu ada satu hal yang sangat aku ingat. Dia minta aku buat nyariin tempat yang jual pempek (makanan khas Palembang). Berhubung waktu itu aku belum bawa motor, maka akupun kesulitan. Sampai akhirnya kita ngga pernah sekalipun makan pempek berdua (sampai sekarang). Nah, suatu hari aku makan pempek dan langsung sms dia, “Aku lagi makan pempek lhoo dek.. nyam nyam nyam.” Bukannya membalas smsku, dia malah lebih memilih untuk mengupdatenya di facebook lengkap dengan menandai akunku. Berhubung dari tadi aku cari-cari statusnya ngga ketemu, aku tuliskan kira-kiranya begini;.

Jumat, 11 September 2015

ANDINI (part 2): Cerita ini Dimulai

sketsa sosok Andini

Dini, begitu aku memanggilnya. Nama lengkap gadis itu Putri Andini. Katanya sih, orang-orang rumah memanggilnya Putri. Dia asli berasal dari kota ini, hal itulah yang memicu banyak teman-teman untuk bertanya, “Kenapa kuliah disini? Nggak di Unnes saja?” for your information, kampusku memang kurang begitu terkenal di kalangan warga Semarang kota. Kalah populer ketimbang Unnes, Undip atau Unissula. Saya sering kenalan dengan mahasiswa kampus lain, ketika aku sebut nama IAIN Walisongo, kebanyakan dari mereka hanya jawab, “oooh, nggak tahu dimana...” atau kalo ketemu mahasiwa yang sok ngerti jawab, “oooh IAIN,,, Jogja ya berarti?” ha... ha... ha.... *ketawa sinis*. Jadi wajar kalo Dini yang notabene adalah anak Semarang asli kuliah di IAIN (sekarang UIN) ditanya, “kenapa nggak kuliah di Unnes saja?” dia hanya menjawab, “nggak keterima kok disitu he he he...”

Kamis, 10 September 2015

ANDINI; Awal Mula

kita pernah disini
Saat itu aku berada di semester 2, berarti tahun 2011, di gedung D Fakultas FITK (dulu masih Fakultas Tarbiyah) aku pertama kalinya menyapa sekaligus sedikit ngobrol dengannya. Masih terasa jelas terpatri, obrolan pertamaku dulu dengannya bersumber dari statusnya di Facebook. Saat itu dia update status kira-kira seperti ini, “Syukurlah, Alhamdulillah hampir aja nyawa melayang.....”. Sesaat setelah perkuliahan selesai, aku lihat dia melamun dan terjadilah obrolan pertamaku dengan dia dalam sejarah hidupku.
“Statusmu kenapa itu, Din?” tanyaku langsung.
“Ooh, tadi pas berangkat aku hampir celaka...” Kata dia.
“Lhoh kok bisa? Bukannya kamu naik bis Damri ya?”

Senin, 24 Agustus 2015

Jangan Curhat !

             Kata orang, kalo lagi ada masalah lebih baik ceritakan ke seseorang. Jikapun orang yang kamu curhatin nggak bisa ngasih solusi, minimal kamu ngerasa lega sudah cerita. Lega? Haha maaf tapi bagiku itu bullshit. Menceritakan masalah pribadi justru adalah sebuah langkah bumerang. Langkah bunuh diri.

          Kita ngga pernah tahu seperti apa watak seseorang, apa yang ada di pikirannya ketika kita sedang bercerita. Mungkin saja justru dia tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “PUASS PUAAS RASAAIIN.” Sedang ketika dihadapan kita dia hanya diam manggut-manggut. Kita juga ngga pernah tahu kedepannya dia akan jadi apa bagi kita? Apakah masih tetap sahabat, stranger atau justru berbalik memusuhi kita. Inilah yang aku bilang bunuh diri. Bagaimana jika orang yang kita percayai untuk tahu masalah-masalah kita justru jadi orang yang totally hate us?


          Hal paling memuakkan akibat dari cerita masalah pribadi ke orang lain adalah dia CERITAIN masalah kita ke orang lain! What a shame !!! manusia memang ngga ada yang bisa dipercaya. Sama sekali. Lalu apa yang harus dilakukan ketika masalah begitu berat seakan tidak sanggup dipikul sendirian? Hey, bung. Kita masih punya Tuhan.!

Periode Kelam

          Aku tengah memasuki periode hidup paling kelam dalam sejarah. Aku muda, tapi nggak punya segalanya. Energi nol, uang nol, waktu nol. Ibaratnya, aku ini sudah seperti mayat hidup. Dikatakan hidup ya mati, dikatakan mati ya nyatanya aku masih bisa ngetik tulisan ini, kan?

          Coba bayangkan, berminggu-minggu aktivitasku selalu sama. Itupun bukan merupakan rutinitas seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Hidupku cuma tidur, makan kemudian muter-muter pake motor, balik kamar tiduran berteman dengan hape. What the fuck man... aku ngerasa sedih sama diriku sendiri. Tidak produktif sama sekali, tidak bermanfaat sama sekali.


          Aku sadar that I’ve too much waste my times but entahlah,,, kesadaranku ini nggak bisa dibarengi dengan action. Padahal umurku sudah 24 tahun dan aku masih begini-begini saja. Pantas lah kalo bapakku semakin males sama aku. Just like, kamu pulang ya ngga papa engga ya silakan. Aku memaklumi itu dan aku ngga tahu harus mulai dari mana untuk merubah diriku yang asu ini.  

           Yaa,,, ilaahi wa maaliikii... Anta ta'lamu kaifa haaly ..... Anta ta'lamu kaifa haaly

Curhat, Gan

Left so far behind....

        Sekarang aku sedang berada di level yang berbeda dengan Fina dan bahkan dengan semua orang yang pernah aku kenal. I sit at the bottom of the bottom. Aku sungguh sedang berdiri mematung melihat mereka teman-temanku berlari menjalani kehidupannya masing-masing. Aku mematung dan mereka berlari kencang. Sekarang aku benar-benar sedang berada di belakang mereka semua. Tanpa karya, tanpa ide, tanpa kreatifitas, tanpa apapun. I really don’t have anything. Anything!

        Banyak teman-temanku sekarang memiliki kebanggaan. Entah dari gaji yang cukup, pasangan hidup yang menawan, posisi jabatan yang wah atau dari enaknya menjalani hidup. Which is, I don’t get it at all in my live now.

WHAT A SUCK MAN ALIVE .... FUUCCKKKK 

Hilang Mood

Aku cepat sekali hilang mood. Tiba-tiba dapat semangat untuk mengerjakan skripsi, kemudian buntu akan satu hal yang kecil. Misalnya, tiba-tiba aku lupa bahasa inggrisnya “kamu” apa, terus aku cari di kamus hape eh ndilalah hapenya lemot, finished! Skripsi kembali aku abaikan. Ngga Cuma sejam atau sehari tapi berminggu-minggu. Iya semudah itu aku kehilangan semangat. Pffftttt, andai saja aku mudah melupakanmu semudah aku kehilangan semangat mengerjakan skripsi. Eh...
Sama kayak sekarang, aku lagi niat banget nih buat posting banyak tulisan. Entah kenapa wi-fi nya trouble terus alias nggak bisa konek. Ancruuutttt. Jengkel banget, Gan. Udah posisi di kafe, sendirian, di pojok, dengan penerangan seadanya lagi. Udah persis kayak penampakan aja nih gue. Jiah, gue.

Kenapa ya? Kenapa aku cepat sekali kehilangan semangat? Kenapa mudah sekali aku kehilangan motivasi? Aku harap pak Mario Teguh Pradhana membaca postingan ini dan memberikan wejangannya yang super. Itu...

Senin, 16 Februari 2015

Alasan Mereka Meninggalkanku?

Adakah seseorang di dunia ini yang merasa sama seperti Aku? Atau pernahkah kalian melihat seorang yang seperti aku? Lho, emang aku seperti apa? Aku adalah All-alone Creation, guys. Aku adalah sesosok makhluk, manusia dan...... hidup yang apa-apa selalu sendiri. Pergi nonton sendirian, jalan-jalan sendirian, mengerjakan PR sendiri, duduk di kafe sendirian, nonton stand up comedy sendirian, ngerjain skripsi sendirian, foto-foto selfie sendirian, nonton bokep sendirian ... oke, aku sudah melenceng. Deskripsi di bawah ini adalah penggambaran yang 97% akurat tentang aku sendiri. Tentu saja tidak aku simpulkan secara seenak sendiri tapi ada beberapa yang diambil dari pendapat sebagian orang yang mengaku mengenalku.

Gambar cowok sendirian. *dok pribadi

Selasa, 10 Februari 2015

Aku, Relativitas & Interstellar (part 2)

Sebenarnya masih banyak sih pikiran-pikiran nakalku yang sering bikin aku tiba-tiba diam lamaaa banget. Tapi, cukup lah aku beritahu dua hal itu, saya kira kalian bisa menebak seperti apa aku hanya dengan membaca dua pertanyaanku itu. Oke cukup sampai situ saja karena maksud tulisan ini sebenarnya tidak ke arah situ.

Jadi di film Interstellar, ceritanya si tokoh utamanya masuk ke lubang hitam secara sengaja. Di film itu digambarkan bagaimana dia tetap bisa hidup di dalam lubang hitam dengan tarikan-tarikan gravitasi yang begitu besar. Lalu tibalah adegan dia masuk di inti lubang hitam yang ternyata adalah Ruang 5 Dimensi. Itu adalah ruang dimana semua “role film” kehidupan kita dari awal sampai akhir berada. Di film itu si tokoh utama yang berada di ruang 5 dimensi mencoba untuk memberitahu dirinya sendiri yang berada di dunia nyata untuk tidak melakukan sebuah kesalahan (nah untuk jelasnya, tonton lah film itu susah jelasinnya). Bicara tentang Role film kehidupan, bagi kalian yang beragama Islam dan PERNAH NGAJI, pasti deh tahu yang namanya, “hisaban yasiiron” bagi orang-orang yang gemar beramal shaleh, dimana hari perhitungan dosa-dosa hanya ditampilkan selayaknya layar film saja. Tidak dihitung dengan rinci dan mendetail. Dua kyai saya dalam berdoa pun mengharapkan itu, yang satu (rohimahullah) doanya, “haasibni hisaban yasiiro”, dan satunya berdoanya, “laa tuhaasibni...” *pengen tahu artinya? KOMEN !”.

Rabu, 04 Februari 2015

Harta & Wanita

“Kamu engga usah mikirin wanita dulu. Pikirkan saja lulus, terus cari kerja yang benar setelah kamu mapan wanita akan datang dengan sendirinya ke kamu.”
Heran dan sedikit nggak percaya ketika kalimat itu berulang-ulang saya dengar. Bukan, bukan dari mulut laki-laki, tapi berpuluh-puluh kali saya mendengarnya dari mulut wanita. Do you get what I mean?.

Sabtu, 31 Januari 2015

Berhenti, Menunggu, Lalu Ditinggalkan

Tadi malam aku mimpiin kamu. Aku bermimpi kita berjalan bersama entah menuju kemana. Dalam mimpiku, terkadang kita berjalan beriringan, terkadang kamu di belakangku dan terkadang kamu berada jauh di depanku.

berhenti menunggu
Aku jadi ingat akan perjalanan hidup hubungan kita berdua. Dari yang semula tak saling mengenal kemudian kita bertemu di satu titik jalan yang membuat kita berjalan beriringan. Bertahun-tahun berjalan bersama untuk kemudian Aku berada jauh di depanmu. Aku sejenak berhenti, menunggu kamu menyusulku untuk kemudian melihat punggungmu berlalu meninggalkan aku jauh di belakangmu. Sementara aku masih berhenti di tempat aku menunggu.


I always said to you, maybe someday we will forget each other, we will forget all moments we already made. Maybe someday, each of us will not care to what happens about us.

MARAH?

Percaya tidak kalo aku nggak pernah benar-benar bisa marah? Ya, berhubung nggak ada yang menjawab, aku anggap pada percaya aja wis. Bhahahaha. Entah, ini kelebihan atau kekurangan. Kadang aku merasa ini kelebihan, dalam artian berarti aku orangnya sabar (ehm.) tapi terkadang juga aku merasa aku in icemen. Bayangkan, pernah suatu ketika ada orang yang terang-terangan menghina aku habis-habisan. Si doi itu, menghina dalam artian yang sebenarnya bukan dalam artian menghina bercanda, tapi reaksiku malah cuma tersenyum kecil.

Senin, 05 Januari 2015

Kegalauan Terakhir

Kartun Cinta *unsource
Akhir-akhir ini aku rasa hubunganku denganmu semakin menjauh saja. Tak ada lagi keromantisan-keromantisan yang terasa seperti saat awal hubungan kita dulu. Jenuh, kemungkinan sebab itu hubungan ini menjadi terasa hambar, tidak menarik dan begitu-begitu saja. Di awal jalinan hubungan, kita begitu nyambung dalam segala hal. Kita mampu bertahan berjam-jam hanya untuk membicarakan hal yang sangat dan teramat tidak penting. Kita bisa bertahan menertawakan hal yang sebenarnya adalah lucu hanya untuk kita berdua. Nyambung, ya... kita tetap nyambung dengan ketidakjelasan obrolan kita. Tapi sekarang, aku harus mengulangi berkali-kali hanya untuk menyampaikan satu kalimat saja. Berbicara denganmu sudah tidak lagi menjadi sebuah hiburan bagiku, karena rasanya lelah untuk terus mengulangi kalimat yang sama. Kamu sudah tidak bisa mengingat kata-kataku lagi seperti saat dulu kamu begitu mudahnya mengingat kalimat per kalimat yang keluar dari mulutku..

Senin, 06 Oktober 2014

Anak Sekolah Jaman Sekarang

Hari ini adalah hari dimulainya Ujian Tengah Semester (UTS) di Sekolah saya. Dan kebetulan, saya menjadi salah satu dari pengawas Ujian. Seperti biasa, mencontek masih menjadi primadona bagi anak-anak ketika sedang mengerjakan soal-soal ujian tersebut. Tidak peduli seberapa ketat saya mengawasi, tetap saja ada satu celah yang bisa mereka manfaatkan untuk mencontek.

Dilarang meniru adegan ini !