Part 3: Teman ..
Kehidupanku
di kampus tak berbeda jauh dengan kehidupanku di jaman sekolah dulu.
Orang-orang yang bergaul denganku adalah mereka yang memang adalah sosok orang
yang baik ke semua orang. Orang yang bergaul denganku hanyalah orang-orang yang
betul-betul tidak memilih-milih teman. Hingga pada dasarnya, aku tidak pernah
benar-benar memiliki teman. Satupun.
Setiap
harinya aku berangkat ke kampus hanya untuk perkuliahan lalu pulang ke kamar
kos, entah itu langsung tidur atau melamun. Berhayal seandainya aku begini
seandainya aku begitu. Di kampus tak satupun unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang
aku ikuti. Pikirku percuma aku gabung kegiatan ekstra, toh paling akan berakhir
tak berguna. Again and again. Pikiran itu bukan tanpa alasan, karena
suatu ketika di semester awal, ada pelatihan untuk masuk satu UKM yang mempunyai tagline, “kita bukanlah
organisasi kita adalah keluarga.” Sebuah tagline yang sedikit banyak
membuatku tertarik untuk bergabung. Dalam pelatihan itu diadakan suatu diskusi
tentang peranan sekolah terhadap perkembangan psikis anak didik. Aku ingat
betul waktu itu aku membantah pendapat salah seorang senior. Entah darimana keberanian
itu datang. Sejatinya, berani untuk membantah juga salah satu skill yang tidak
aku punyai. Dengan tagline “Kita Adalah Keluarga.” Aku pikir semua opini
bisa ditanggapi secara bijak. Namun apa yang aku dapatkan adalah ancaman di
akhir diskusi.
