Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2015

MENTAL DISORDER (3)

Part 3: Teman ..
            Kehidupanku di kampus tak berbeda jauh dengan kehidupanku di jaman sekolah dulu. Orang-orang yang bergaul denganku adalah mereka yang memang adalah sosok orang yang baik ke semua orang. Orang yang bergaul denganku hanyalah orang-orang yang betul-betul tidak memilih-milih teman. Hingga pada dasarnya, aku tidak pernah benar-benar memiliki teman. Satupun.
            Setiap harinya aku berangkat ke kampus hanya untuk perkuliahan lalu pulang ke kamar kos, entah itu langsung tidur atau melamun. Berhayal seandainya aku begini seandainya aku begitu. Di kampus tak satupun unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang aku ikuti. Pikirku percuma aku gabung kegiatan ekstra, toh paling akan berakhir tak berguna. Again and again. Pikiran itu bukan tanpa alasan, karena suatu ketika di semester awal, ada pelatihan untuk masuk  satu UKM yang mempunyai tagline, “kita bukanlah organisasi kita adalah keluarga.” Sebuah tagline yang sedikit banyak membuatku tertarik untuk bergabung. Dalam pelatihan itu diadakan suatu diskusi tentang peranan sekolah terhadap perkembangan psikis anak didik. Aku ingat betul waktu itu aku membantah pendapat salah seorang senior. Entah darimana keberanian itu datang. Sejatinya, berani untuk membantah juga salah satu skill yang tidak aku punyai. Dengan tagline “Kita Adalah Keluarga.” Aku pikir semua opini bisa ditanggapi secara bijak. Namun apa yang aku dapatkan adalah ancaman di akhir diskusi.     


Senin, 23 November 2015

MENTAL DISORDER (2)

Alhamdulillah, ini adalah part 2 dari cerita bersambung Mental Disorder, semoga bisa menikmati ya. Kalo belum baca yang part 1, bisa dibaca di klik Mental Disorder: Part 1. Happy reading, all ^-^
***

PART 2: Pertemuan
            Bertahun-tahun aku terbiasa hidup sendiri, melakukan apapun sendiri. Sampai ketika mendaftar kuliahpun aku lakukan sendiri setelah jenjang SD, SMP, SMA selalu diantar ayah. Ya, dulu ayah adalah satu-satunya orang yang selalu percaya bahwa suatu hari aku akan benar-benar menjadi seorang Ali yang tinggi. Ali yang bijaksana. Ali yang bermartabat, Ali yang berwibawa. Namun, perlahan keyakinan itu nampaknya mulai luntur seiring berjalannya waktu.
            Kalian tahu musuh Spiderman 2 versinya Andrew Garfield? Nah, kondisiku persis seperti tokoh yang jadi Electro. Jelek, sendiri dan sebagus apapun kerjanya tetap tidak akan dianggap. Cuma, aku tidak selebay electro sih. Kesendirian ini berlangsung begitu lama membuatku tidak terlalu memahami apa itu artinya diterima, disayangi dan dicintai. Tidak, aku sama sekali tidak bisa memahami itu semua. Sampai suatu sore di sebuah toko buku terbesar di kota ini.

Jumat, 20 November 2015

MENTAL DISORDER. (1)

Part 1: Aku Bukan Alien !

Buatan Sendiri mohon dimaklumi

Sebut saja namaku, Ali. Dulu ayahku menjelaskan kenapa aku diberi nama Ali adalah dengan harapan, kelak aku bisa menjadi seseorang yang tinggi. Tinggi kedudukan, tinggi ilmu akalnya, tinggi segalanya. 12 belas tahun berlalu semenjak ayahku mengatakan harapan atas namaku. Namun apa daya, harapan tinggal harapan. Bisa dikatakan aku gagal memenuhi harapan itu.
            Jangankan tinggi pangkat, tinggi badan saja mentok di 168 cm. Ilmu agama cethek, ilmu dunia juga sama sekali bukan tandingan teman-teman sebaya. Dalam pergaulan sosialpun aku nggak ada apa-apanya. Aku bukanlah sosok seperti ayah yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Aku cenderung pemurung, suka menyendiri dan sulit diterima lingkungan. Makanya, aku hanya punya sedikit teman,-sebenarnya tidak punya sama sekali. Intinya, orang yang baik kepadaku adalah orang-orang yang memang baik ke semua orang